Kemaren minggu gue pergi ke Pakuwon mall buat ngeliat pameran Diecast.
Disana ada Gramedia, kebetulan Gue lewatin dan karena penasaran sekarang isinya kayak gimana, Gue masuk dah.
Disana ada Manga2 baru yang diterbitin, entah itu pake label Gramedia,M&C, EMK, atau yang lainnya.
Hingga Gue tertarik ke satu rak yg isinya manga terbitan Phoenix Gramedia.
Gue baru ingat, dulu Gramedia dan Kadokawa bikin perusahaan gabungan di Indonesia, Phoenix Gramedia namanya.
Karena penasaran, Gue beli Isekai Nonbiri Nouka (Farming Life in Another World) dan satu manhwa Korea terbitan M&C, Solo Leveling.
Di bukunya ada tulisan Dewasa.
Gue baru inget ada beberapa adegan telanjang di manga ini, tapi rasanya ga sampe harus ditempel label “dewasa” sih. Tapi ya udah lah, value dan cara pandang yang dibawa orang ga ada yang sama.
Gue kepikiran, di manga Evangelion yang edisi mahal itu di halanan awalnya ada tulisan yang kira-kira bunyinya “isi ada yang diubah dari sumber aslinya“.
Dan itu bener, pada dasarnya sensor adegan telanjang.
Gue sebagai penikmat originalitas bisa dibilang kecewa berat. Makanya gue ga lagi beli volume berikutnya. Karena yang menarik dari manga Evangelion ga cuma di cerita, tapi art nya. Dan Gue suka gambarnya om Yoshiyuki Sadamoto. Kalo art nya berubah, dan itu disengaja, artinya ya udah rusak buat gue.
Farming Life in Another World, punya label dewasa, nah. Apa ini bakalan kena hal yang sama?
Gue bolak balik halamannya, ga ada notifikasi yang menyatakan “kena sensor”.
Tapi Gue inget, di chapter-chapter awal ada adegan Rurushi bugil garagara berantem sama Inferno Wolf. So Let’s check it out!
Oke, ternyata sensor emang ada.
Di scene Hiraku ketemu Rurushi Ruu, ada beberapa panel signifikan yang diubah sama editor.
Panel yang ngasih liat bokong Rurushi, pada terbitan PG (Phoenix Gramedia), ditutup pake huruf efek suara. Aslinya huruf efek ini ada di sisi kanan panel dan overlap dengan garis panel, dan pada terbitan PG, huruf ini digeser buat nutupin bokong Rurushi Ruu.


Panel yang ngasih lihat badan Rurushi Ruu di bagian depan, mereka mengakalinya dangan lebih zoom in agar area selangkangan nggak kelihatan. Masih dipanel yang sama, garis kurvatur yang menbentuk lekukan payudara juga dihilangkan sebagian. Aslinya, gambarnya zoom out dan garis lekukan payudara juga terlihat.


Panel yang memperlihatkan Rurushi Ruu berlutut dan mengaku kalah. Panel ini memperlihatkan keseluruhan badan Rurushi Ruu dari depan, tapi pandangan pembaca diblok oleh keberadaan Kuro (Inferno Wolf) yang ada di kiri Hiraku. Aslinya, Kuro ada di kanan Hiraku, nggak nutupin pandangan pembaca.


Pada halaman terakhir di bab pertemuan Hiraku dengan Rurushi Ruu, balon kata-kata nutupin area selangkangan Ruu. Aslinya juga sama, tapi bedanya yang original ukuran balon kata-katanya kecil dan ga ada ditengah.


Terus, apa gue akan stop beli ini manga? Mengingat harganya aja udah 65.000 rupiah?
Mungkin nggak.
Gue akan tetep beli volume berikutnya, kalo budget memungkinkan.
Bruh, ini manga 65 rebu rupiah harganya…
Lho kenapa? Kalo lu bilang lu setop beli manga Evangelion yang udah 100 rebuan gara2 art nya lu anggap udah rusak, kenapa ada pengecualian ke Farming Life in Another World.
Kayak yang udah Gue bilang, gue suka dengan art nya Yoshiyuki Sadamoto.
Artinya, Gue beli karena tiga point, art, cerita dan presentasi produk.
Karena hal ini, art menjadi sangat penting buat gue, sekalinya ada yang berubah, gue anggap barang rusak. Bodo amat sama pikiran orang lain, ini adalah standing point gue.
Sedangkan, Farming in Another World gue beli karena gue demen cerita, presentasi produknya, dan reading experience nya.
Artinya, Gue masa bodo sama art nya. Karena gaya gambarnya bukan yang jadi tipe kesukaan Gue, tapi disaat yang sama gue juga ga ada masalah sama gaya gambarnya.
Oke, kita bicara ke cerita.
Ini cerita tentang apa sih?
Isekai Nonbiri Nouka, alias Farming Life In Another World adalah cerita mengenai orang bernama Hiraku Machio, pekerja kerah putih yang sakit-sakitan diusia 30 gara-gara kerja di black company yang bikin dia ga ada waktu buat menjaga kesehatan.
Setelah lama dirawat di rumah sakit, akhirnya dia mokat juga.
Ketemu sama Dewa, ngobrol-ngobrol, dan dia direinkarnasi ke dunia lain.
Karena beberapa permintaan dia, dan si Dewa bisa dibilang agak salah mengartikan, Hiraku spawn di area Hutan Kematian.
Ini adalah area wilayah kekuasan Raja Iblis, dan tempat ini adalah tempat yang luar biasa susah dihuni manusia atau makhluk lemah lainnya.
Pohonnya luar biasa kuat dan susah ditebang, tanah juga keras dan nggak cocok buat bercocok tanam, dan gangguan dari hewan buas maupun monster yang berkeliaran ditempat ini.
Hiraku memilih jadi petani, oleh Dewa dia diberi perlengkapan bertani yang bisa membantu dia dalam bertani, berkebun, dan juga sebagai alat beladiri, termasuk untuk menghajar dan membunuh, apapun atau siapapun yang membahayakan dirinya.
Di awali dari datangnya dua Inferno Wolf ke wilayah perkebunan Hiraku, hinga akhirnya ketemu sama Vampir, Malaikat, Elf, Naga, Dwarf, Beastfolk, Demon, dan sebagainya. Hiraku menjadi pak Kades dan menjalani hidupnya dengan santai bersama istri-istri dan warga desanya.
Iya, Pak Kades harus poligami karena berbagai situasi menyebabkan dan atau membutuhkan hal itu.
Cara penceritaan manga ini menarik, bagi yang demen baca novel mungkin kalian akan suka. Karena manga ini penuh dengan monolog si Hiraku yang udah kelihatan kayak narasi dari narator film.
Karena banyaknya monolog, ada banyak text yang harus dibaca dalam satu halaman.
Cukup banyak, tapi juga ga kebanyak dan ga ngelewatin batasan “mucho texto” yang suka dikeluhkan para pembaca buku bergambar.
Iya Togashi! Gue paham maksud lu, serius. Tapi inget, lu ini bikin manga, bukan novel Hunter x Hunter!
Semoga kesehatan anda membaik.
berikutnya presentasi produk.
Ini adalah bagian yang bahkan manga Evangelion yang seratus rebuan kalah banyak dari Farming Life in Another World.
Kalian tau nggak, kalo Farming Life in Another World itu ada Dust Jacket nya!
YES ! <<< Gue teriak begini pas sadar ada Dust Jacket.

Manga Jepang rata-rata ada dust jacket, ini udah kayak jadi standar bagus dari buku terbitan di sana.
Dulu, Elex Media Komputindo juga nerbitin manga disini pake dust jacket juga.Meski kadang lipatan dan ukuran cetaknya kalo nggak ngasal ya nggak presisi.
Sekarang, mayoritas manga terbitan Indonesia udah ga pake dust jacket lagi.
Adanya dust jacket di manga terbitan PG, gue jadi ngerasa kalo duit yang gue keluarin buat beli ini manga jadi lebih kerasa..apa ya istilah indonesianya: “well spent” ?
Nggak cuma itu, dibalik dust jacketnya juga ada bahan bacaan yang menarik.
Point berikutnya adalah material kertas yang dipakai.
Jujur, halaman berwarnanya bagus tapi kertasnya kerasa terlalu tipis jadi pas di-lem, kelihatan meliuk.

Buat halaman regulernya, pakai kertas yang lebih tebal dan ga lagi pake kertas koran murah.
Hal yang gue benci dari manga terbitan sini, dari dulu, dari jamannya Kungfu Boy, mereka selalu pake kertas koran murah warna abu-abu.
Ini diperparah, semakin lama kualitas kertasnya memburuk. Kena suhu dingin, langsung melekuk.
Ga cuma dibagian itu, warna kertas abu-abu buat nyetak huruf dan gambar itu memperburuk impresi ke pembacanya. Terutama di urusan gambar.
Kertas yang dipakai di Farming Life in Another World lebih tebal, warnanya putih susu. Mungkin lebih ke warna krem.
Dan ini bagus banget, karena sekarang gambar yang dicetak jadi kelihatan lebih cerah dan klasik secara bersamaan.
Dengan kertas yang kerasa lebih bagus (bukan yang terbagus, karena gw pernah punya manga yang terbitan Jepang), buku ini kerasa lebih sepadan dengan harganya.
Dan ini gue serius.
Oke, gue ambil contoh lain adalah komik Asterix & Obelix karya Goschini dan Underzo.
Buat yang ga tau, komik ini dicetak ulang beberapa kali di Indonesia. Tapi cetakan terbarunya membunuh warna dari komiknya.
Cetakan terbaru pakai kertas semacam HVS, matte, dan warnanya kelihatan “mati” dipandangan mata gue.
Tapi cetakan yang lama, yang kertasnya udah berubah warna menguning atau kecoklatan, warnanya justru kelihatan pop out, kelihatan “hidup” dipandangan gue.
kertasnya sendiri bukan tipe art paper, tapi juga bukan matte paper macem hvs juga. Seenggaknya kelihatan beda di area yang kena tinta, aga sedikiiiiit gloss gitu.
Makanya, kalo salah pilih kertas buat materi cetakan, presentasinya juga bisa ikutan rusak.
Berikutnya, reading experience.
Holy shit, gue ga nyangka gue akan sebegitu menikmatin baca Farming Life in Another World !
Perlu kalian ketahui, gue udah baca ini manga disitus manga scan. Yeah, call me pirate if you want, I don’t give a shit.
Ditiap halaman yang gue buka, gue selalu ngerasa senang buat ngebaca text dan ngelihat gambarnya (sampe ketemu sensoran sih, tapi ya udah lah).
Bahkan waktu gue skip monolog nya Hiraku, gue selalu berubah pikiran dan ngebaca ulang apa yang jadi pikiran dia.
Mata gue serasa dimanjakan sama warna, huruf, dan gambar di-manga ini.
Gue udah kayak nemuin lagi rasa dan pengalaman bocil gw waktu baca manga Dragon Ball pertama kali. Menyenangkan.
Bedanya, rasa penasaran gue buat setiap halaman yang gue buka udah ilang. Karena yaah…. gue udah keburu baca ini manga duluan disitus manga scan. Tapi ini bukan sesuatu yang negatif buat gue.

Kenapa?
Yaah fakta karena gue masih ngerasa senang, bahkan udah kayak balik ke masa bocil baca komik, artinya gue tetap mendapatkan pengalaman yang positif meski udah tau ceritanya.
Toh, ingatan gue juga nggak kuat-kuat amat.
Maklum, dah tua.
Jadi baca ulang tapi pake format buku fisik yang punya presentasi bagus itu bener-bener jadi pengalamanya yang menyenangkan buat gue.
Kesimpulannya.
Buku ini muahal banget, tapi sebadan dengan harganya. Beli aja kalo punya budget dan demen cerita pak Kades hidup nyantai.
