Alias, sistem tiket elektronik. Menggantikan sistem manual yang selama ini dipakai oleh jaringan Kereta Api di Jakarta.

KRL, atau Kereta Rangkain Listrik adalah salah satu transportasi yang populer di Jakarta. KAI berusaha meningkatkan pelayanan dengan mulai mengenalkan sistem Ticket Gate otomatis yang sekarang ini sudah banyak di pakai dan menjadi hal yang umum di negera lain seperti Jepang.

Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai

Untuk saat ini, penumpang masih harus pergi ke loket untuk membeli tiket yang sekarang ini dalam bentuk kartu RFID.

Sebelumnya, kita di hajar tarif flat untuk naik KRL. Bisa dibilang, tarif ini menonjok telak ke ulu hati karena tinggi sekali. Jika dibandingkan dengan Busway yang flat 3.500 Rupiah dan bebas transit, KRL adalah 8.500 Rupiah untuk sekali perjalanan (Jakarta Kota-Bekasi). Akibatnya Busway jadi transportasi favorit gue.

Dan thanks to Gelar Jepang UI, gue harus naik KRL lagi buat kesananya, ternyata mulai Juli 2013, terjadi perubahan sistem tarif.

Untuk 5 stasiun pertama kita di charge 2000 Rupiah, dan setelah itu terkena tambahan 500 rupiah untuk setiap 3 stasiun yang kita lewati.

WOW!

Ini benar-benar perubahan yang drastis dan sangat bagus! Kudos to KAI.

Normalnya, kalau full naik KRL, gue musti bayar lebih dari 15.000 rupiah buat ke Stasiun UI, tapi sekarang, cuma bayar 2500 rupiah kalau naik dari Tebet. Kalau naik dari Stasiun Buaran yang kebetulan deket rumah gue, cuma bayar sekitar 3500 Rupiah doang! YES!

Sebenarnya artikel nya selesai sampai disini, karena selanjutnya adalah opini gue mengenai perubahan sistem ticketing KAI dan permasalahannya. Jadi yang cuma cari info mengenai tarif baru KRL, stop sampai disini saja. Tapi kalau ada waktu luang, silahkan lanjutkan membaca.

Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai

 

Untuk sekarang ini, sistem Ticket Gate masih dalam masa transisi dan pengenalan pada penumpang. Dalam masa transisi, terjadi banyak masalah dan keluhan, kebanyakan adalah warga yang kaget dan tidak terbiasa dengan sistem baru ini.

Gue membaca beberapa berita mengenai masalah ini, mulai Ticket Gate yang macet, hingga penumpang yang marah karena kebingungan atau tidak mau belajar menggunakan sistem baru ini.

Dan ternyata, memang hal ini terjadi, waktu mau berangkat ke Universitas Indonesia, Ticket Gate di stasiun UI macet, sehingga ticket harus diserahkan manual ke petugas. Dan sewaktu pulang dari sana, setibanya di stasiun Tebet, seorang ibu-ibu paru baya ngambek karena petugas yang kurang ramah menjelaskan sistem baru ini.

Ini adalah hal yang wajar, kalo menurut gue (feel free to disagree, I don’t give a damn).

Kita ini cenderung susah untuk beradaptasi dan menerima perubahan baru yang “radikal” karena sudah terbiasa dengan sistem yang lama, sistem yang sebenarnya kurang efektif tapi sudah tumbuh berakar sangat kuat.

Banyak juga yang beranggapan kalau sistem Ticket Gate ini tidak efektif dan membingungkan. Itu juga pemikiran yang wajar, karena banyak penduduk Jakarta yang agak sulit diedukasi dan dikenalkan dengan perkembangan teknologi yang sebenarnya akan membawa mereka kearah yang lebih baik lagi di kedepannya.

Menang membingungkan, tapi sebenarnya tidak juga. Kelemahan dari KAI adalah, terlalu dini dalam melakukan perubahan ini tanpa adanya sosialisasi yang intensif pada jauh-jauh hari. Akibatnya banyak orang yang kaget.

Bagi warga yang melek teknologi, atau minimal tau cara menggunakan mesin ATM, pastinya gampang memahami sistem Ticket Gate ini. Tapi bagi generasi (maaf) “tua”, yang sudah mulai ogah mengamati perkembangan ataupun karena tidak melek teknologi, pastinya akan sangat membingungkan.

Diatas adalah Ticket Gate di Jepang. Yang beda dengan Indonesia, untuk Gate In, kartu single trip dijepang dimasukkan ke slot (kalau di Indonesia di tapping) saat masuk ke stasiun. Tapi kartu single trip ini nanti akan keluar di ujung ticket gate yang sama dan harus diambil karena nanti dipakai buat Gate Out.

 

Gue punya orang tua yang bahkan menyalakan kompor gas saja masih kebingungan caranya, karena sudah terbiasa dengan kompor minyak. Dan belakangan ini akhirnya bokap beli ponsel dan kebingungan caranya karena seumur hidup belom pernah pake ponsel.

Intinya, tidak peduli berapa usia kalian, muda ataupun tua, janganlah berhenti belajar.
Mungkin kalian ada yang berpikir:

“Meski Ticket Gate sukses dan efektif di Jepang dan negara lain, belum tentu efektif di Indonesia”

Well, gue ga akan menyalahkan pikiran itu, tapi coba terima atau minimal ketahui juga pola pikir yang ini juga:

“Ticket Gate terbukti efektif di Jepang dan negara lain, kenapa Indonesia nggak bisa? Pasti bisa dong, gampang kok sebenarnya, yang penting pelajari caranya.”

Tentunya kalian ada yang bertanya, kenapa gue pro banget ama Ticket Gate ini, ama sistem Elektronic Ticketing nya KAI?

Jawabnya adalah, karena kenyataannya ini terbukti berhasil buat gue karena gue tau caranya, karena gue mau belajar gimana caranya.

Share This:






If you're interested on these product below, you may click the link.
Your purchase through these CD-Japan link will sprinkle some water to us in a very hot day and night.


Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>